Betapapun sulitnya kehidupan yang kita alami kini, kiranya masih jauh lebih baik dibandingkan dengan hidup di masa penjajahan dulu. Tulisan Sewaka (Gubernur Jawa Barat di zaman perang kemerdekaan) "Tjorat-Tjaret dari djaman ke djaman" memberi gambaran betapa dihinakannya bangsa kita waktu itu. Kuwu (Kepala Desa) pada tahun duapuluhan abad keduapuluh, jika menghadap Camat harus duduk bersila di lantai sedangkan yang dihadapnya duduk di kursi. Kalau Kuwu saja tidak boleh duduk sama tinggi jika mengahadap Tjamat, apa lagi kalau menghadap Controleu (pejabat bangsa Belanda di bawah Asisten Residen).
Berikut ini petikan dari "Tjorat-Tjaret dari djaman ke djaman" yang memberi gambaran keadaan antara tahun 1921 - 1925, yaitu saat Sewaka menjadi Asisten Wedana (Camat) Jatiwangi.
. . .
Pada waktu saja mulai mendjabat pekerdjaan tjamat maka per-tama2jang saja lihat ialah djauhnja hubungan antara bestir dan masjarakat. Hubungan itu boleh dikatakan hanja ada, djika ada kumpulan orang banjak disalah satu desa dimana seorang tjamat harus hadir, atau djika terdjadi suatu perkara politie jang menjebabkan seorang tjamat harus bertemu dengan anggauta-anggauta masjarakat. Dapat dikatakan bahwa diluar Dinas tidak ada hubungan sama sekali. Pun para kepada desa (kuwu2) jang sebenarnja merupakan tenaga2 pembantu untuk lantjarnja pemerintahan diketjamatan, nampaknja selalu bersikap djauh-djauh sadja. Dengan keadaan jang sedemikian itu tidaklah akan mungkin pemerintahan dapat berdjalan baik. Berdasarkan atas kejakinan ini, maka saja berusaha untuk mendekatkan diri kepada masjarakat. Mula2 saja lakukan terhadap para kuwu dengan permintaan agar mereka pada waktu berkumpul di ketjamatan duduk dikursi. Perlu diterangkan bahwa pada waktu itu adalah satu kebiasaan jang para kuwu duduk dibawah djika menghadap pada tjamat.; demikian pula pada waktunja kumpulan mereka harus duduk diatas tikar. Tindakan ini diambil agar mereka merasa lebih "vrij" dan dengan demikian dapat lebih leluasa memadjukan rupa2 hal dalam kumpulan itu.
Langkah ini rupanja agak menarik perhatian dari jang diatas djuga. Terbukti dari datangnja seroang Controleur jang mengahdliri kumpulan ketjamata, jang kemudian menanjakan kepada saja, apakah maksudnja dari pemberian duduk dikursi pada kuwu2itu.
Atas pertanjaan itu, maka tidak saja djawab seperti jang dimaksud semula, jaitu agar vrij dan leluasa, sebab dengan adanja Controleur itu terlihat beberapa kuwu bersikap “zenuwachtig” dan ada beberapa dari mereka jang mengangkat kakinja dan berduduk “sila”, tetapi atas pertanjaan itu saja berikan alasan lain ja'ni untuk menghilangkan rasa sedih saja jang para kuwu harus duduk dibawah sedang seorang bangsa lain jang kebetulan pada waktu kumpulan saja panggil, umpamnja seorang tjina mindering, harus duduk dikursi.
Mendengar djawaban ini Controleur tinggal diam dan sampai habis kumpulan tidak berbitjara lagi.
Bahwa para kuwu terlihatnja agak zenuwahtig memang dapat dimengerti, sebab djika mereka terhadap tjamat sadja sudah bersikap ketakutan, terlebih lagi terhadap Kg. T. Controleur.
. . .
Tentu saja kita berharap keadaan seperti itu tidak terulang lagi.
Carilah di sini
Rabu, 03 Februari 2010
Senin, 11 Januari 2010
"NYUNGKUN" DAN "SURTI"
Salah seorang cucu saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar, pernah beberapa kali minta uang kepada ibunya. Tak banyak yang dimintanya, hanya seribu atau lima ratus rupiah sekali meminta. Karena sering jumlahnya tentu menjadi lumayan banyak, lagi pula terasa mengganggu oleh ibunya. Akhirnya anak itu disodori lembaran lima puluh ribuan oleh ibunya. Ia tak mau menerima uang itu dan hari itu ia tak merengek lagi minta uang hingga petang.
Dalam bahasa Sunda pemberian dariibu cucu saya tadi yang terakhir itu disebut nyungkun. Pemberian yang tidak wajar supaya orang yang diberi mengetahui bahwa yang memberinya merasa jengkel dan tidak senang. Sikap cucu saya itu, yang tidak mau diberi uang yang nilainya tidak wajar, terlalu besar, dalam bahasa Sunda disebut surti.
Saya, dan mungkin sebagian besar orang Sunda, tidak menganggap pemberian yang terakhir itu sebagai tanda ibunya cucu saya itu sakit atau menyetujui perbuatan Ima. Saya mencari padanan kata sungkun dan surti itu dalam bahasa Indonesia tapi belum menemukannya. Barangkali kedua kata itu menunjukkan salah satu kearifan lokal etnik Sunda. Namun boleh jadi juga kearifan seperti itu dimiliki oleh etnik lain di tanah air kita ini.
Saya hanya ingin menunjukkan salah satu sisi sikap budaya kita yang tidak selalu berterus terang. Tidak selalu menunjukkan ketidak setujuan dengan perlawanan. Seringkali ketidak setujuan dilakukan dengan sikap yang seakan-akan setuju yang berlebihan.
Dalam bahasa Sunda pemberian dariibu cucu saya tadi yang terakhir itu disebut nyungkun. Pemberian yang tidak wajar supaya orang yang diberi mengetahui bahwa yang memberinya merasa jengkel dan tidak senang. Sikap cucu saya itu, yang tidak mau diberi uang yang nilainya tidak wajar, terlalu besar, dalam bahasa Sunda disebut surti.
Saya, dan mungkin sebagian besar orang Sunda, tidak menganggap pemberian yang terakhir itu sebagai tanda ibunya cucu saya itu sakit atau menyetujui perbuatan Ima. Saya mencari padanan kata sungkun dan surti itu dalam bahasa Indonesia tapi belum menemukannya. Barangkali kedua kata itu menunjukkan salah satu kearifan lokal etnik Sunda. Namun boleh jadi juga kearifan seperti itu dimiliki oleh etnik lain di tanah air kita ini.
Saya hanya ingin menunjukkan salah satu sisi sikap budaya kita yang tidak selalu berterus terang. Tidak selalu menunjukkan ketidak setujuan dengan perlawanan. Seringkali ketidak setujuan dilakukan dengan sikap yang seakan-akan setuju yang berlebihan.
Kamis, 17 Desember 2009
Pedagang Dudukuy dan Monyet
Seorang pedagang dudukuy -topi yang berdaun seperti topi cowboy- menjajakan dagangannya berkeliling dari suatu tempat ke tempat lain. Setelah lelah berjalan jauh dan kepanasan, tengah hari ia berteduh dan duduk di bawah sebatang pohon. Pikulan yang berisi barang dagangan ia letakkan di sampingnya. Mungkin karena kelelahan ia mengantuk dan tertidur. Tanpa ia sadari pohon itu merupakan tempat tinggal sekelompok monyet yang keheranan melihat orang yang duduk berteduh di bawah mereka.
Melihat pedagang tertidur beberapa ekor monyet turun dan mencoba mengambil dudukuy dari pikulan kepunyaan pedagang itu. Monyet-monyet itu meniru sang pedagang yang mengenakan dudukuy yang sama dengan yang ia jajakan. Ketika si pedagang tidak bereaksi karena lelap tertidur, monyet-monyet yang lain pun mengikuti jejak teman-temannya sehingga semua dudukuy yang ada dalam pikulan habis diambli dan dipakai monyet-monyet itu. Monyet terakhir yang turun karena kehabisan dudukuy pada pikulan mencoba mengambil dudukuy yang tengah dipakai pedagang yang tertidur itu.
Karena terganggu pedagang itu terbangun dan tentu saja sangat heran karena barang dagangannya habis padahal sejak pagi belum laku sebuah pun.
Diperhatikannya keadaan sekelilingnya kalau-kalau ada orang, ternyata tak ada seorangpun yang ada di sekitar tempat itu. Akhirnya ia menengok ke atas dan melihat dudukuy - dudukuy dagangannya tengah dipakai oleh monyet. Marah bukan kepalang. Hendak naik mengejar pencuri barang dagangannya ia tak mampu. Dengan sebatang bambu yang didapatnya, ia menakut-nakuti monyet-monyet yang ada di atasnya. Bukannya takut, monyet-monyet itu malah memperolok-oloknya dengan menirukan setiap perbuatan orang itu, dan makin tinggi mereka naik ke atas pohon hingga tak terjangkau lagi dengan bambu yang dipakai pedagang itu. Karena putus asa pedagang itu melepas dudukuy yang dipakainya dan mencampakkannya ke tanah.
Tanpa diduganya berjatuhan pula dudukuy-dudukuy dari atas pohon. Rupanya monyet-monyet itu terus menerus memperolok sang pedagang, dan ketika melihat pedagang itu melemparkan dudukuynya ke tanah, mereka pun menirunya pula. Monyet-monyet itu kehilangan dudukuy. Pedagang mendapatkan barang dagangannya kembali.
Meniru tanpa dipikirkan lebih dahulu biasanya disebut taklid.
Mudah-mudahan saja usahaku belajar membuat blog ini tidak seperti yang mengganggu pedagang dudukuy tadi.
Melihat pedagang tertidur beberapa ekor monyet turun dan mencoba mengambil dudukuy dari pikulan kepunyaan pedagang itu. Monyet-monyet itu meniru sang pedagang yang mengenakan dudukuy yang sama dengan yang ia jajakan. Ketika si pedagang tidak bereaksi karena lelap tertidur, monyet-monyet yang lain pun mengikuti jejak teman-temannya sehingga semua dudukuy yang ada dalam pikulan habis diambli dan dipakai monyet-monyet itu. Monyet terakhir yang turun karena kehabisan dudukuy pada pikulan mencoba mengambil dudukuy yang tengah dipakai pedagang yang tertidur itu.
Karena terganggu pedagang itu terbangun dan tentu saja sangat heran karena barang dagangannya habis padahal sejak pagi belum laku sebuah pun.
Diperhatikannya keadaan sekelilingnya kalau-kalau ada orang, ternyata tak ada seorangpun yang ada di sekitar tempat itu. Akhirnya ia menengok ke atas dan melihat dudukuy - dudukuy dagangannya tengah dipakai oleh monyet. Marah bukan kepalang. Hendak naik mengejar pencuri barang dagangannya ia tak mampu. Dengan sebatang bambu yang didapatnya, ia menakut-nakuti monyet-monyet yang ada di atasnya. Bukannya takut, monyet-monyet itu malah memperolok-oloknya dengan menirukan setiap perbuatan orang itu, dan makin tinggi mereka naik ke atas pohon hingga tak terjangkau lagi dengan bambu yang dipakai pedagang itu. Karena putus asa pedagang itu melepas dudukuy yang dipakainya dan mencampakkannya ke tanah.
Tanpa diduganya berjatuhan pula dudukuy-dudukuy dari atas pohon. Rupanya monyet-monyet itu terus menerus memperolok sang pedagang, dan ketika melihat pedagang itu melemparkan dudukuynya ke tanah, mereka pun menirunya pula. Monyet-monyet itu kehilangan dudukuy. Pedagang mendapatkan barang dagangannya kembali.
Meniru tanpa dipikirkan lebih dahulu biasanya disebut taklid.
Mudah-mudahan saja usahaku belajar membuat blog ini tidak seperti yang mengganggu pedagang dudukuy tadi.
Langganan:
Postingan (Atom)