Carilah di sini

Sabtu, 21 Juli 2012

MEMPERINGATI PAHLAWAN TOHA dkk.

Tugu Pahlawan Toha cs yang dibangun oleh warga masyarakat pada tahun 1957, untuk memperingati perjuangan Muhammad Toha, Mohammad Ramdan dan kawan-kawan, yang telah menghancurkan gudang mesiu yang dikuasai Belanda. Sekarang tugu ini sudah diganti oleh Pemda Kabupaten Bandung.

Selasa, 26 Juni 2012

DAYEUHKOLOT KETIKA WARGA BARU PULANG MENGUNGSI



Prasasti jembatan sungai Citarum di Dayeuhkolot yang dibangun sekitar tahun 1950 yang diresikan pada 29 Oktober 1951 oleh Ir. R. Ukar Bratakusumah, Menteri Pekerjaan Umum saat itu.



Ketika warga Dayeuhkolot baru mulai kembali dari tempat mengungsi sekitar tahun 1948, penduduk masih jarang, banyak yang bertahan tinggal di tempat mengungsi masing-masing. Saat itu hampir tak ada bangunan yang masih utuh berdiri. Dayeuhkolot merupakan salah satu tempat yang paling menderita kerusakan pada peristiwa Bandung Lautan Api dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Kota dan Kabupaten Bandung. Di sini hampir semua bangunan rata dengan tanah. Yang masih berdiri dapat dihitung dengan jari, di antaranya gedung PLN (waktu itu penduduk menyebutnya Denki, nama perusahaan listrik zaman pendudukan Jepang) dan menara air untuk mengisi air lokomotif uap di setasiun KA Dayeuhkolot. Bangungan lainnya hancur ketika gudang mesiu diledakkan oleh Mohammad Toha dan kawan-kawan pada pertengahan tahun 1946. Jembatan jalan raya yang dihancurkan dalam peristiwa Bandung Lautan Api saat itu masih belum diperbaiki. Kendaraan dan orang yang akan menyeberangi sungai Citarum harus menggunakan jembatan Kereta Api yang tak sempat dibumi hanguskan.

Rabu, 03 November 2010

DAYEUHKOLOT KAPAN TAK BANJIR LAGI ?

Dayeuhkolot dan Baleendah yang dipisahkan sungai Citarum merupakan salah satu bagian terendah dari cekungan Bandung. Bermuaranya sejumlah anak sungai, baik yang berasal dari pegunungan yang terletak di selatan Bandung maupun yang datang dari pegunungan di utara cekungan ini di sekitar Dayeuhkolot dan Baleendah menunjukkan hal itu. Disebut salah satu bagian terendah bukan berarti satu-satunya bagian terendah, karena ada daerah lain yang letaknya lebih rendah. Sungai Citarum, yang memisahkan kecamatan Dayeuhkolot dengan Baleendah, di sini mengalir dari arah timur ke barat, menunjukkan bahwa posisi daerah hilirnya lebih rendah dari kedua kecamatan ini. Jadi masih ada daerah yang letaknya lebih rendah.
Posisi ini menunjukkan bahwa Dayeuhkolot dan Baleendah tidak seharusnya dianggap wajar menjadi langganan banjjir. Bukan hanya karena ada wilayah lain yang letaknya lebih rendah, melainkan juga kenyataan duapuluh hingga tigapuluhan tahun yang lalu wilayah yang terkena banjir tidak seluas sekarang. Sebagai contoh lapangan sepakbola Yon Zipur 3, Kantor Desa Dayeuhkolot di kampung Bojongasih, Kampung Kaum tempat Masjid Besar As-Sofia sekarang berada, dahulu tidak pernah banjir. Ketika terjadi banjir besar tahun 1986 beberapa tempat yang disebut di atas bahkan dijadikan tempat mengungsi. Jalan Mama Yuda (Bolero) yang sekarang seluruh ruas jalannya beberapa kali terendam banjir, dahulu hanya sebagian kecil saja yang terendam.

Senin, 11 Oktober 2010



Masjidil Haram, 4 Juli 2006.
Jemaah boleh membawa kursi lipat untuk tempat duduk jika yang bersangkutan tidak kuat lama berdiri. Pada sisi kanan potret ada jemaah yang shalat sambil duduk di kursi lipat. Untuk yang tidak bisa berjalan boleh menggunakan kursi roda ke dalam masjid. Informasi ini mudah-mudahan berguna bagi yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah.

Selasa, 31 Agustus 2010

SUKABIRUS DESA CITEUREUP

Setelah STT Telkom (sekarang IT Telkom) dibangun di lokasi bekas Stasiun Pemancar Radio Palasari dengan gerbang utama menghadap ke sebelah timur, ke jalan desa yang menghubungkan desa Citeureup dan desa Sukapura, wilayah sekitarnya seperti Sukabirus, Cigombong, Ciranjeng, Manggadua, dan Sukapura berkembang dengan sangat pesat. Apalagi setelah dibangun jalan tembus dari jalan desa yang menghubungkan Sukabirus dengan Sukapura ke jalan Raya Bojongsoang menyeberangi sungai Cikapundung, wilayah yang berkembang pesat itu semakin luas. Pemukiman semakin padat penghuni, pesawahan dan kebun pun beralih fungsi menjadi pemukiman.
Semakin padatnya penduduk di wilayah sekitar IT Telkom bukan disebabkan program KB tidak berhasil melainkan disebabkan oleh bertambahnya para pendatang. Bukan hanya mahasiswa yang akan menuntut ilmu di perguruan tinggi milik PT Telkom itu saja, melainkan juga mereka yang datang mengadu untung di sini. Ada yang membangun rumah kos, ada yang berdagang kebutuhan sehari-hari para mahasiswa yang dari tahun ke tahun banyaknya terus bertambah.

Kamis, 01 April 2010

BANJIR MELANDA DAYEUHKOLOT



Jln. Raya Dayeuhkolot dari pertigaan "Aloen" hingga ke jembatan berubah menjadi sungai. Paling atas pangkal Jln. Mama Yuda (Bolero) dari arah Jln. Raya Dayeuhkolot. Tengah Jln. Raya Dayeuhkolot dilihat dari pertigaan Jln. Bolero ke arah tenggara. Bawah Jln. Raya Dayeuhkolot dilihat dari pertigaan Jln. Bolero ke arah utara. Gambar diambil tanggal 21 Maret 2010.

SETELAH BANJIR AGAK SURUT . . .














Murid-murid SD Negeri Dayeuhkolot 10 menunggu perahu untuk masuk sekolah yang masih dikepung banjir pada tanggal 31 Maret 2010. Sekolah ini sama dengan tetangganya (SD Negeri Dayeuhkolot 7 sudah lebih sepekan "libur banjir"